IDENTIFIKASI KOMPLEKS MAKAM KUNO ANAKIA MBU’UTOBU WEPOINDO DI KELURAHAN MELUHU
IDENTIFIKASI KOMPLEKS MAKAM KUNO ANAKIA MBU’UTOBU WEPOINDO DI
KELURAHAN MELUHU KECAMATAN MELUHU KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGGARA
Abrory Dicky
Fernandho
H. Abdul Rauf
Suleiman
Syahrun
Jurusan
Arkeologi Universitas Halu Oleo
(Email
:orhyajjah@gmail.com)
ABSTRAK
Abrory Dicky Fernandho, “Identifikasi
Kompleks Makam Kuno Anakia Mbu’utobu Wepoindo Di Kelurahan Meluhu Kecamatan
Meluhu Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara” dibimbing oleh H.Abd Rauf
Suleiman dan Syahrun.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk makam, temuan
lepas serta untuk mengetahui apakah makam tersebut merupakan budaya masa Islam
atau pra Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis
yang terdiri dari beberapa tahap yaitu survei permukaan, wawancara, observasi,
mengkaji dokumen, dokumentasi dan kemudian ditambah dengan analisis morfologi.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Situs kompleks makam kuno anakia mbu’utobu
Wepoindo di Kelurahan Meluhu, Kecamatan Meluhu, Kabupaten Konawe Provinsi
Sulawesi Tenggara pada umumnya berbentuk persegi, yang kemudian dibangun
menggunakan gundukan tanah, memiliki jirat serta nisan. Terdapat 4 tipe makam
berdasarkan jumlah jirat yaitu tipe A1, A2, A3, A4 dan A5, serta terdapat 4
bentuk nisan yaitu tipe, PS, LJ, TB dan P. Selain itu terdapat temuan lepas
berupa mangkuk dengan jumlah 6, piring dengan jumlah 10, gelas dengan jumlah 1
dan mata uang berjumlah 1. Melalui bentuk makam, temuan lepas serta sejarahnya
maka dapat disimpulkan bahwa kompleks makam kuno anakia mbu’utobu Wepoindo
merupakan makam masa Islam yang kemudian masih dipengaruhi tradisi megalitik.
Kata
Kunci: Makam, Temuan lepas, Makam Kuno
A.
PENDAHULUAN
Masyarakat
suku Tolaki di Konawe memiliki akar sejarah dan kebudayaan yang sangat panjang.
Hal ini dapat dilihat dari ditemukanya peninggalan-peninggalan prasejarah dan
sejarah yang berupa artefak, bangunan, kuburan kuno, pemukiman kuno, dokumen,
arsip, dan data-data etnografis seperti; bahasa, seni, teknologi peralatan,
tradisi, dan adat istiadat. Namun demikian masih disayangkan bahwa data-data
dan peninggalan-peninggalan itu belum dimanfaatkan secara maksimal untuk
kepentingan akademisi, khususya bagi penelitian arkeologi dan penulisan sejarah
Tolaki di Konawe. Salah satu peninggalan yang belum dimamfaatkan adalah situs
kompleks makam kuno anakia mbu’utobu Wepoindo yang berada di, Kelurahan
Meluhu, Kecamatan Meluhu, Kabupaten Konawe.
Secara umum kondisi situs kompleks makam kuno anakia mbu’utobu
Wepoindo saat ini dalam keadaan rusak, hal ini disebabkan oleh faktor alam
yakni, tumbuhnya pohon-pohon di sekitaran makam sehingga menimbukan kerusakan
pada badan makam serta turunya hujan yang menyebabkan kontur tanah makam
akhirnya menurun dan tak terbentuk lagi. Terkait dengan tinggalan arkeologisnya
serta lokasi penelitian yang cukup dekat, situs ini menyimpan banyak tinggalan
berupa makam-makam kuno serta artefak artefak lainya seperti keramik sehingga
menarik untuk dijadikan sebagai bahan penelitian. Maka dalam hal ini sebagai
mahasiswa arkeologi mencoba untuk menjawab dengan melakukan sebuah penelitan
yang terarah dengan menggunakan metode-metode penelitian arkeologi. Tujuan
penelitian arkeologi di situs makam kuno anakia mbu’utobu Wepoindo yang
berada di Kelurahan Meluhu dengan penduduk mayoritas suku Tolaki tentunya
menjadi sangat penting untuk dilakukan penelitian. Hal ini agar dapat
dimanfaatkan untuk memperkokoh jati diri atau identitas lokal.
B.
METODE
Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang digunakan adalah bersifat interaktif seperti
survei permukaan, wawancara, dan obeservasi, dan yang bersifat noninteraktif
dengan mengkaji dokumen atau conten analysis (Sutopo, 2006 : 66).
a. Survei permukaan adalah proses untuk mengamati permukaan tanah dari
jarak dekat dengan tujuan untuk mendapatkan data arkeologi yang berada di situs
kompleks makam kuno anakia mbu’utobu Wepoindo (Sukendar, 1999:22)
b.
Wawancara ialah
proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan
informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek
penelitian. Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh
informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian.
(Sutopo, 2006 : 72).
c.
Observasi
hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindera, bisa penglihatan,
penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk
menjawab masalah penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa,
objek, kondisi atau suasana tertentu. Observasi dilakukan untuk memperoleh
gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan
penelitian.
d.
Pengkajian
dokumen, informasi juga bisa diperoleh lewat fakta yang tersimpan dalam bentuk
surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat, cenderamata, jurnal kegiatan
dan sebagainya. Data berupa dokumen seperti ini bisa dipakai untuk menggali
infromasi yang terjadi dimasa silam.
e.
Dokumentasi, dengan
menggunakan alat kamera foto, teknik ini dilakukan untuk merekam gambar
tinggalan-tinggalan situs kompleks makam kuno anakia mbu’utobu Wepoindo
yang berada di Kelurahan Meluhu.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Sejarah
Wepoindo
Wepoindo merupakan anak dari pasangan Denati dan Pakandeate selaku
Tutuwi Motaha atau sebagai pasukan pengawal kerajaan Konawe yang dilahirkan di
Anggaberi. Pakandeate mengutus putrinya yakni Wepoindo diutus di Meluhu untuk
menjadi anakia mbu’utobu. Peran Wepoindo selaku pemimpin daerah Meluhu
terhadap Kerajaan Konawe yaitu sebagai pemegang bendera Kerajaan Konawe dengan
julukan “ana gili mandombi ana bali bandera”, artinya pemegang bendera
Kerajaan Konawe (Basrin et al 2016: 358).
Dalam
peperangan raja Bone melawan Kerajaan Luwu dalam memperebutkan wilayah Pondre
pada tahun 1621, Raja Bone yang ke-6 yaitu To Akke Peyang Matindroeri Tallo
meminta bantuan pasukan kepada Mokole Lakidende II. Kemudian Mokole Lakidende
II mengirimkan 740 pasukan elit Konawe yang kemudian dipimpin oleh Inowehi II
(Pakandeate). Dalam membantu raja Bone melawan Kerajaan Luwu, Pakandeate membawa
putrinya yakni Wepoindo yang bertugas untuk memegang bendera Kerajaan Konawe
(Wawancara 24 November 2018). Setelah memenangkan perang melawan Kerajaan Luwu
yang dibantu oleh pasukan dari Kerajaan Konawe, raja Bone mengeluarkan
pernyataanya yakni: Iyani yae ana arungnge pole tana ilau riasengnge inowehi
to waranie Pakanreati. Artinya: Wahai rakyat Bone inilah anak bangsawan
dari timur (Konawe) yang bernama Inowehi II laki-laki pemberani pemakan hati
manusia (Wawancara 24 November 2018).
Bentuk Makam
Deskripsi dengan perekaman data dalam bentuk kalimat verbal dan
gambar. Dalam bentuk verbal menjabarkan bentuk, bahan dan pengukuran dengan mengukur
panjang, lebar dan tinggi. Secara umum bahan pembuatan makam terbuat dari
gundukan tanah dan jirat terbuat dari batu. Pada perekaman data dilakukan
perekaman dengan melakukan pendokumentasian berupa foto. Penelitian ini membagi
4 tipe bentuk makam berdasarkan jumlah jirat yaitu:
1.
A1 jirat
berundak 4
a)
1 Nisan
2.
A2 jirat
berundak 2
a)
Tanpa Nisan
b)
1 Nisan
3.
A3 jirat
berundak 1
a)
Tanpa Nisan
b)
1 Nisan
c)
2 Nisan
4.
A4 Tidak
berundak
a)
Tanpa Nisan
b)
1 Nisan
c)
2 Nisan
5.
A5 jirat
perubahan
a)
Tanpa Nisan
b)
Nisan
1.
A1 Jirat Berundak 4
1 Nisan (Makam Wepoindo)

Foto 5.1 Makam Wepoindo Gambar 5.1 Makam Tampak Atas
(Sumber: Dok Abrory,
2018) (Sumber: Abrory, 2018)
Makam
dengan nama Wepoindo didirikan di atas tanah datar hutan adat Tolaki di
Kelurahan Meluhu, Kecamatan Meluhu, Kabupaten Konawe. Makam ini beriorentasi
Utara-Selatan berbentuk persegi, memakai jirat serta terdapat satu nisan. Makam
ini merupakan yang terbesar yang berada di situs kompleks makam raja Wepoindo
dengan ukuran panjang 10,70 meter, lebar 9,70 meter dan tinggi 2,10 meter.
Nisan makam terbuat dari batu andesit yang berdiri tegak dan berbentuk pipih.
Ukuran nisan yaitu tinggi 40 cm, lebar 15 cm, tebal 9 cm, berwarna coklat
keabuan serta terdapat patahan pada nisan.
Foto 5.2 Nisan Wepoindo
(Sumber: Dok Abrory, 2018)
Di atas makam terdapat 2 pecahan keramik. Keramik ke satu berwarna
putih, mempunyai kaki berbentuk bundar dengan ketebalan 3,40 mm. Sedangkan
keramik ke dua berwarna merah kecoklatan dengan ketabalan 4,34 mm dan memiliki
ragam hias menyurupai bentuk hat, bentuk persegi, dan beberpa motif lainya yang
tidak dapat diidentifikasi.

Foto 5.3 Temuan Lepas Makam
Wepoindo Gambar 5.2 Temuan lepas
(Sumber: Dok Abrory,
2018) (Sumber:
Abrory, 2018)
2.
A2 Jirat Berundak 2
Makam
Tanpa Nisan

Foto 5.4 Makam Gambar 5.3 Makam Tampak
Atas
(Sumber: Dok Abrory, 2018) (Sumber: Abrory, 2018)
Makam ini memiliki ukuran
yaitu dengan panjang 3,40 meter, lebar 3,40 meter dan tinggi 45 cm. Jirat pada
tingkat pertama mengalami kerusakan pada bagian sisi arah Barat, Timur, dan
Selatan, sedangkan jirat ke dua dalam keadaan baik dengan posisi jirat cukup
beraturan. Jirat pada makam terbuat dari bahan batu andesit yang tidak
terbentuk yang kemudian disusun rapi mengikuti bentuk makam.
Makam 1 Nisan (Makam Iluka)

Foto 5.5 Makam Iluka Gambar 5.4 Tampak Atas
(Sumber: Dok Abrory, 2018) (Sumber: Abrory, 2018)
Makam Iluka berbentuk
persegi dan didirikan di atas tanah datar hutan adat Tolaki di Kelurahan Meluhu,
memakai jirat dan nisan. Ukuran makam yaitu panjang 6,70 meter, lebar 6,20
meter dan tinggi 1,40 meter, sedangkan tinggi nisan 44 cm, lebar 28 cm, nisan 7
cm dengan warna nisan abu-abu kehitaman.
Foto
5.6 Nisan Iluka
(Sumber: Dok
Abrory, 2018)
3.
A3 Jirat Berundak 1
Makam Tanpa
Nisan

Foto 5.5 Makam Gambar 5.5 Makam Tampak Atas
(Sumber: Dok Abrory, 2018) (Sumber: Abrory, 2018)
Makam
ini berbentuk persegi dan didirikan di atas tanah datar hutan adat suku Tolaki
di Kelurahan Meluhu, Kecamatan Meluhu, Kabupaten Konawe. Ukuran makam yaitu
panjang 3,40 meter, lebar 2,50 meter dan tinggi 41 cm. Mempunyai jirat yang
terbuat dari batu yang disusun mengikuti pola bentuk makam.
Makam 1 Nisan (Makam Terane)

Foto 5.6 Makam Terane Gambar
5.6 Makam Tampak Atas
(Sumber: Dok Abrory,
2018) (Sumber: Abrory, 2018)
Makam Terane didirikan di atas tanah datar hutan adat Tolaki di
Kelurahan Meluhu, dengan bentuk persegi. Memiliki jirat dengan bentuk persegi dan
mempunyai satu nisan. Ukuran makam ini yaitu panjang 2,60 meter, lebar 1,70 meter dan tinggi 15 cm.
Ukuran nisan yaitu tinggi 10 cm, lebar 11 cm, dan berwarna coklat kehijauan.
Foto
5.7 Nisan Terane
(Sumber: Dok
Abrory, 2018)
Makam 2 Nisan
(Makam We Alehi)

Foto 5.8 Makam We Alehi Gambar 5.7 Makam Tampak Atas
(Sumber: Dok
Abrory, 2018) (Sumber: Abrory, 2018)
Makam
We Alehi didirikan di atas tanah datar hutan adat Tolaki di Kelurahan Meluhu,
dengan bentuk persegi. Memiliki jirat cukup beraturan dan memiliki dua nisan
yang terbuat dari batu berwarna coklat kehitaman. Ukuran makam ini yaitu
panjang 3,20 meter, lebar 3,20 meter dan
tinggi 35cm. Ukuran nisan bagian kiri yaitu tinggi 9 cm, lebar 12 meter, dan
ukuran nisan bagian kanan yaitu tinggi 7 cm dan lebar 7 cm.
Foto 5.9
Nisan We Alehi
(Sumber: Dok
Abrory, 2018)
4. A4 Tidak
Berundak
Makam Tanpa Nisan (Makam Toemba)

Foto 5.10 Makam Toemba Gambar 5.8 Makam Tampak Atas
(Sumber: Dok Abrory, 2018) (Sumber: Abrory, 2018)
Makam ini berdekatan dengan makam-makam kuno lainya. Makam ini
berukuran panjang 4,50 meter, lebar 4,50 meter serta tinggi 80 cm, tidak
mempunyai jirat dan nisan.
Makam 1 Nisan (Makam Samaturu)
Makam ini tidak memiliki jirat namun memiliki 1 batu nisan yang
terbuat dari batu andesit yang berdiri tegak. Nisan berbentuk pipih persegi
dengan ukuran yaitu tinggi 13 cm dan lebar 10 cm, sedangkan ukuran makam yaitu
panjang 5,20 m, lebar 4,20 m dan tinggi 63 cm.

Foto 5.11 Makam Samaturu Gambar 5.9 Makam Tampak Atas
(Sumber: Dok Abrory, 2018) (Sumber: Abrory, 2018)
Foto
5.12 Nisan Samaturu
(Sumber: Dok Abrory, 2018)
Makam 2 Nisan (Makam We Boti)

Foto 5.13 Makam We Boti Gambar 5.10 Makam Tampak Atas
(Sumber: Dok Abrory,
2018) (Sumber: Abrory, 2018)
Ukuran makam We
Boti yaitu panjang 3,30, lebar 3,30 meter serta tinggi 30 cm. Sedangkan tinggi
nisan ke-1 yaitu 16 cm, lebar 8,5 cm dan tebal 4,5 cm, tinggi nisan ke-2 yaitu
9 cm, lebar 7,5 cm dan tebal 6 cm

Foto 5.14
Nisan We Boti
(Sumber: Dok Abrory, 2018)
5.
A5
Jirat Perubahan
Makam Tanpa Nisan (Makam Ponggano)

Foto 5.15 Makam
Ponggano
(Sumber: Dok Abrory, 2018)
Memiliki jirat namun tidak memiliki nisan. Ukuran makam ini yaitu
panjang 3,19 meter, lebar 2,20 meter dan tinggi 80 cm. Makam ini sudah direnopasi,
hal ini dapat dilihat jirat membentuk persegi dengan 3 tingkatan, menggunakan
keramik atau tehel berwarna putih. Ukuran jirat pertama yaitu panjang 3,19
meter dan lebar 2,20, jirat ke dua panjang 2,82 meter dan lebar 1,81 meter,
jirat ke tiga panajang yaitu 2,63 meter dan lebar 1,41 meter.
Makam 2 Nisan (Nama Tidak Diketahui)

Foto
5.16 Makam
(Sumber:
Dok Abrory, 2018)
Makam memiliki 2 jirat serta 2
nisan. Ukuran makam jirat ke 1 yaitu panjang 1,66 meter, lebar 1,7
meter, dan tebal 10 cm. Sedangkan ukuran jirat ke 2 yaitu panjang 1,66, lebar
97 cm, dan tebal 20 cm. Nisan ke 1 tinggi 8 cm dan nisan ke 2 tinggi 15 cm. Pada
salah satu nisan makam terbuat dari bahan pasir dan semen yang kemudian
dibentuk meyurupai kepala dan badan, sedangkan nisan ke 2 terbuat dari batu
berbentuk persegi.
Foto
5.17 Nisan
(Sumber:
Dok Abrory, 2018)
Temuan Lepas
Berdasarkan pengamatan tipologis dapat diketahui
tipe-tipenya antara lain; piring, mangkuk dan koin. Keramik yang ditemukan
berasal dari dari berbagai negara yaitu: Cina, Holandia, Italia, Vietnam dan Bali (Indonesia).
1. Mangkuk Bali

Foto 5.18 Keramik Tampak
Atas Foto 5.19 Keramik Tampak Belakang
(Sumber: Dok
Abrory, 2018) (Sumber: Dok
Abrory, 2018)
Ukuran mangkuk yaitu tinggi keseluruhan 10 cm, tinggi kaki 1,5 cm,
diameter badan 19 cm, diameter kaki 9,5 cm, tebal badan keramik 5,75 mm, dan
tebal kaki 7,40 mm. Pada bagian mangkuk terdapat angka 2 dengan ukiran timbul
dan lambang berbentuk lingkaran lonjong dengan tulisan pada bagian dalam “P.
REGOUT MAASTRICHT A.2 1836”, serta terdapat tulisan “BALI” dan aksara bali. Mangkuk
ini terdiri dari bagian kaki dan badan serta terdapat dua warna yaitu putih dan
biru, serta memiliki motif hias. Pada bagain tengah mangkuk terdapat motif hias
menyerupai bunga yang sedang mekar, terdapat garis arsiran yang mengelilingi
motif bunga. Pada bagian atas mangkuk terdapat motif berbentuk lingkaran
lonjong yang saling terkait satu sama lain serta terdapat motif segitiga
berukuran kecil pada bibir mangkuk.
2. Piring
Vietnam

Foto 5.20 Keramik
Tampak Atas Foto 5.21 Keramik Tampak
Belakang
(Sumber: Dok Abrory, 2018) (Sumber: Dok Abrory, 2018)
Keramik
ini memiliki ukuran yaitu tinggi 4 cm, tebal 6,25 mm, diameter keramik 16 cm,
diameter kaki keramik 10 cm, tebal kaki keramik 0,02 cm. Pada bagian belakang
keramik terdapat simbol atau lambang berbentuk bell yang diduga merupakan merek
dagang perusahaan pembuatan keramik yang berasal dari Thailand. Pada bagian
pinggir keramik terdapat motif bunga, dedaunan, serta sulur-suluran yang
didominasi dengan warna putih dan pink. Pada bagian tengah keramik memiliki
motif berupa bangunan Thailand.
3. Piring
Italia

Foto 5.22 Keramik Tampak Atas Foto 5.23 Keramik Tampak Belakang
(Sumber: Dok
Abrory, 2018) (Sumber: Dok
Abrory, 2018)
Ukuran piring keramik ini yaitu tinggi 2,5
cm, 4,95 mm, diameter 20 cm, diameter kaki 11 cm dan tinggi kaki 0,03 cm. Pada
bagian sisi keramik terdapat motif yang mengambarkan tumbuhan dengan bentuk
pepohonan berwarna biru. Pada bagian tengah keramik terdapat motif hiasan
berupa gambar ayam jantan yang sedang berdiri di tanah rerumputan. Bagian
belakang keramik terdapat motif topi kerajaan serta motif lain yang tidak dapat
diidentifikasi bentuknya, terdapat tulisan berwarna hitam yaitu “RIOHARD,
G7NORI, ITALIA”, serta terdapat angka”91”.
4. Piring Cina

Foto 5.24 Keramik Tampak
Atas Foto 5.25 Simbol Keramik
(Sumber: Dok
Abrory, 2018) (Sumber: Dok Abrory,
2018)
Keramik berbentuk piring memiliki ukuran yaitu tinggi keramik 5 cm,
Diameter 25 cm, tebal 7,5 mm, diameter kaki 13 cm, dan tinggi kaki 2 mm.
Memiliki warna coklat keabuan, mempunyai motif pada bagian sisi piring dan
terdapat simbol pada bagaian tengah yang menyurupai aksara Cina. Menurut
Ajemain piring tersebut merupakan piring yang dikhususkan kepada raja, pemimpin
atau bangsawan (Wawancara 10 juli 2018).
5.
Mata Uang

Foto 5.26 Tampak
Belakang Foto 5.27 Tampak
Depan
(Sumber: Dok
Abrory, 2018) (Sumber: Dok Abrory, 2018)
Mata Uang dengan gambar perahu beserta
nilai angka 12,50 pada sebelah kiri dan gambar ayam sepasang beserta tulisan
kaligrafi berlafadzkan Allah serta tulisan Muhammad pada sebelah kanan. Pada
sebelah kiri terdapat gambar kapal berlayar. Koin ini merupakan hasil galian
yang dilakukan oleh masyarakat Meluhu di salah satu makam kuno. Mata uang
berdiameter 20,93 mm dengan ketebalan 0,56 mm.
Tabel 5.1
Analisis Temuan lepas Pada Kompleks Makam Kuno
Anakia Mbuutobu
Wepoindo

(Sumber: Abrory, 2018)
Akulturasi Budaya Islam Dan Pra Islam Terhadap Kompleks Makam Kuno
Di Kelurahan Meluhu.
Pada
masa kerajaan Konawe sebelum masuknya Islam, sistem penguburan orang Tolaki
yakni mereka menggunakan Soronga yang kemudian Soronga tersebut ditempatkan
kedalam gua (Wawancara, 13 juli 2018). Secara keseluruhan sistem penguburan
yang berada di pesisir barat Sulawesi Tenggara merupakan sistem penguburan
tidak langsung. Data kubur di gua Lawalatu, Gua mala-mala, Gua Watuwulaa, dan
Gua Porabua berupa fragmen tulang ditemukan berkelompok, begitu juga dengan
temuan Soronga yang selalu memuat rangka dan tengkorak (Duli
dan Nur, 2016: 214).
Salah satu tinggalan nyata dari budaya Indonesia pada masa
Islam adalah makam, makam adalah suatu sistem penguburan untuk orang Muslim. Makam
yang berasal dari masa Islam memiliki orientasi dari Utara ke Selatan dengan
posisi kepala disisi Utara dan kaki disisi Selatan. Dilihat dari segi bangunan
makam memiliki tiga unsur yang saling melengkapi, yaitu jirat (kijing) fondasi
dasar yang berbentuk empat persegi panjang, badan makam dan nisan. Dalam agama
Islam terdapat sejumlah peraturan berkaitan dengan keberadaan makam. Dalam
beberapa hadist dikatakan bahwa makam atau kubur lebih baik ditinggikan dari
tanah disekitarnya agar dapat dikenal. Kubur diberi tanda batu atau benda lain
dibagian kepala, dilarang menembok kubur, dilarang membuat tulisan pada kubur
dan dilarang memberi hiasan pada kubur.
Berdasarkan data hasil penelitian di lapangan bahwa situs kompleks
makam kuno anakia mbu’utobu Wepoindo yang berada di Kelurahan Meluhu merupakan
perkuburan Masa Islam. Hal ini dikarenakan bentuk makam berbentuk persegi,
terbuat dari gundukan tanah yang kemudian memakai jirat dengan menggunakan batu
yang disusun, serta penggunaan nisan yang terbuat dari batu yang dimana
ciri-ciri tersebut sesuai dengan peraturan agama Islam. Kemunculan makam di Kelurahan Meluhu dikarnakan masyarakatnya
telah memeluk agam Islam. Hal ini
dibuktikan dengan data dari 180 makam, terdapat 45 Makam yang menggunakan nisan, 135 Makam yang tidak
menggunakan nisan, 7 Makam yang menggunakan jirat dan nisan, 26 Makam yang
menggunakan jirat, 51 Makam yang teridentifikasi arah hadap Utara-Selatan.
Terdapat bekal kubur yang ditemukan berupa keramik dan mata uang bertuliskan
Allah dan Muhammad.
Situs kompleks makam kuno anakia mbuutobu
Wepoindo di Kelurahan Meluhu ditemukan 180 makam kuno yang bahan bangunanya
terbuat dari gundukan tanah dan berbentuk persegi. Terdapat indikasi kuat
penggunaan unsur lokal dalam penanda makam kuno berupa nisan dan jirat. Penanda
makam berupa nisan secara mempergunakan bahan batu-batu alam dengan bentuk yang
tidak beraturan. Dan hanya beberapa makam saja yang memakai nisan batu tegak
berbentuk pipih (menhir) serta serta nisan lonjong yang berukuran besar seperti
makam Wepoindo dan Iluka yang merupakan pemimpin atau tokoh di wilayah ini. Data
sejarah dan bukti arkeologis jelas ini menunjukan bahwa perkuburan
tersebut merupakan perkuburan masa Islam. Akan tetapi tradisi megalitik masih
ditemukan di kompleks makam kuno anakia mbu’utobu Wepoindo berupa, bekal kubur,
tradisi ziarah kubur sekaligus meminta sesuatu (Pada makam Wepoindo), serta
bentuk makam Wepoindo yang dibuat secara lebih besar dan memiliki 4 tingkatan.
D. Penutup
1. Situs kompleks makam kuno anakia mbu’utobu Wepoindo pada umumnya
berbentuk persegi, yang dibangun menggunakan gundukan tanah, memiliki jirat
serta nisan. Unsur pembuatan makam berupa dari gundukan tanah, jirat yang
terbuat dari batu alam tanpa dibentuk kemudian disusun megikuti bentuk makam,
serta nisan berupa batu tanpa dibentuk .
2. Berdasarkan hasil penelitian temuan yang
berada di kompleks makam kuno anakia mbu’utobu Wepoindo berupa temuan keramik
berbentuk piring, mangkuk, gelas dan mata uang yang berasal dari luar.
3. Berdasarkan hasil data arkelogis dan dan
sejarah yang ditemukan di situs kompleks makam kuno anakia mbu’utobu Wepoindo
disimpulkan bahwa makam tersebut merupakan makam perkuburan masa Islam yang
kemudian masih dipengaruhi tradisi megalitik. Hal ini dibuktikan dengan
data klasifikasi dari 180 makam, terdapat 45 Makam yang menggunakan nisan, 135 Makam yang tidak menggunakan nisan, 7
Makam yang menggunakan jirat dan nisan, 26 Makam yang menggunakan jirat, 53
Makam yang teridentifikasi arah hadap Utara-Selatan. Terdapat bekal kubur yang
ditemukan berupa keramik dan koin bertuliskan Allah dan Muhammad, makam Wepoindo yang berukuran besar, memiliki
jirat 4 tingkat, serta nisan berdiri tegak yang menggambarkan kuatnya
unsur lokal yang secara aktual menunjukan kelanjutan tradisi megalitik.
Meskipun Islam sudah berkembang dan dianut masyarakat Meluhu pada zaman dahulu.
Daftar Pustaka
Ambary, Hasan Muarif., 1986. Unsur Tradisi Pra Islam Pada Sistem
Pemakaman Islam di Indonesia. Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV Jakarta:
Depdikbud.
Akin, Muhammad, (2016) Prasejarah Sulawesi. Makassar: FIB
Universitas Hasanuddin.
Depdikbud, (1995). Sejarah Kebudayaan Sulawesi.
Jakarta: Depdikbud.
Foucault,
Michael. (2018). Arkeologi Pengetahuan Dan pengetahuan
Melamba, Basrin. Dkk,.(2016).Sejarah Dan Budaya
Masyarakat Tolaki Di Konawe. Kendari. Lukita.
N Rahma, 2015.Pengertian dan Konsep Akulturasi.
Melalui http://repository.uin-suska.ac.id/6776/3/BAB%20II.pdf [29/10/18]
Suekendar, Haris. (1999). Metode Penelitian
Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Suekendar, Haris. (1998). Album Tradisi
Megalitik Indonesia. Jakarta: Depdikbud
Sutopo, HB. (2006). Metode Penelitian Kualitatif, Surakarta:
UNS Press
Prasetyo, Bagyo, dkk. (2004). Religi Pada Masyarakat Prasejarah Di
Indonesia. Jakarta: Puslit Arkenas.
W.
Burton. And R. L Hobson, (1909). Handbook Of Marks On Pottery And Porceln.
London: Macmillan And co., Limited
.
Komentar
Posting Komentar